Aceh Barat, Bihaba.co – Suasana pergerakan mahasiswa di Universitas Teuku Umar (UTU) memanas. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM UTU) resmi mengeluarkan
Aceh Barat, Bihaba.co – Suasana pergerakan mahasiswa di Universitas Teuku Umar (UTU) memanas. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM UTU) resmi mengeluarkan Surat Peringatan Pertama (SP1) kepada Pemerintahan Mahasiswa (PEMA UTU) periode 2025–2026 pada 14 September 2025.
SP1 dengan nomor surat 038/DPM-UTU/IX/2025 itu menilai PEMA UTU mengalami kevakuman lebih dari tiga bulan. DPM menilai lembaga eksekutif mahasiswa tersebut tidak menjalankan program kerja maupun melakukan konsolidasi kelembagaan.
DPM memberi tenggat waktu 14 hari kepada PEMA untuk melakukan perbaikan. Jika tidak, sanksi lanjutan akan dijatuhkan.
“SP1 ini bukan sekadar administrasi, tapi bukti nyata bahwa PEMA UTU lumpuh sejak awal. Ini tamparan keras dan malu besar bagi marwah mahasiswa,” tegas Candra B Gunawan, mantan pengurus BEM Fakultas Teknik UTU.
Candra menilai kevakuman PEMA sangat berbahaya karena mahasiswa kehilangan wadah perjuangan kolektif. “Kalau PEMA diam, mahasiswa hanya akan jadi penonton. Padahal PEMA adalah motor penggerak, bukan pajangan nama di SK Rektor,” tambahnya.
Suara Mahasiswa Lintas Fakultas
Kritik juga muncul dari berbagai fakultas. Yusafat Hardian, anggota DPM Fakultas Teknik UTU, menyebut SP1 ini seharusnya dijadikan momentum perbaikan.
“Kelemahan ini bukan hanya kesalahan pengurus saat ini, tapi juga cermin rapuhnya konsolidasi sejak awal. Kalau tidak segera dibenahi, lembaga mahasiswa bisa kehilangan kepercayaan publik,” ujarnya.
Krisis Kelembagaan Mengancam
Keluarnya SP1 ini disebut sebagai tanda adanya krisis kelembagaan mahasiswa di UTU. Analisis yang berkembang menyebutkan beberapa akar masalah, mulai dari lemahnya konsolidasi awal, krisis kepemimpinan, keterputusan regenerasi, hingga risiko hilangnya legitimasi.
Jika peringatan ini tidak diindahkan, dampak serius yang mungkin terjadi antara lain:
Mahasiswa kehilangan wadah perjuangan kolektif.
Kredibilitas PEMA runtuh dan sulit dipercaya di periode berikutnya.
Citra UTU tercoreng di tingkat lokal maupun nasional.
Terjadi kekosongan kepemimpinan mahasiswa yang berisiko diisi pihak eksternal.
Bola Panas di Tangan PEMA
Menutup kritiknya, Candra B Gunawan mendesak agar PEMA segera berbenah.
“Mahasiswa jangan pasif. PEMA harus segera membuktikan diri, atau siap dicatat sejarah sebagai kepengurusan paling gagal di UTU. Ini soal marwah kita bersama,” pungkasnya.
Kini, seluruh perhatian mahasiswa UTU tertuju pada langkah yang akan diambil PEMA dalam dua pekan ke depan. Apakah mampu menjawab ultimatum, atau justru meninggalkan catatan kelam dalam sejarah organisasi kemahasiswaan kampus tersebut.


COMMENTS